COVID-19 VS Pandemi Sebelumnya, Lebih Bahaya Mana?


AGEN BOLAGubenur DKI Jakarta Anies Baswedan akan memberlakukan PSBB total dalam waktu dekat. Keputusan ini dilakukan mengingat angka kasus positif COVID-19 yang meningkat dari hari ke hari.

Pro kontra mengenai kabar ini terus bergema, bahkan ada yang mempertanyakan apakah ini keputusan yang tepat. Terlepas dari hal itu, tak ada salahnya untuk mengetahui seperti apa tingkat berbahaya penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 ini dibandingkan dengan pandemi sebelumnya.

1. HIV (1981 - sekarang)

Sejak adanya HIV pada tahun 1980-an, penyakit ini diperkirakan sudah diidap oleh lebih dari 32 juta orang di seluruh dunia. Di akhir 2018, ada 37,9 juta hidup dengan HIV.

Meskipun HIV juga disebabkan oleh virus, ada perbedaan yang signifikan antara kedua pandemi. Yang paling jelas adalah cara transmisi mereka. Berbeda dengan SARS-CoV-2 yang merupakan virus penyebab COVID-19, HIV tidak dapat menular melalui batuk dan bersin.

Perbedaan penting lainnya adalah saat ini tidak ada obat yang dapat mengobati atau mencegah COVID-19. Meskipun tidak ada vaksin untuk HIV, berkat obat antiretroviral, orang yang memiliki HIV punya akses ke perawatan untuk hidup yang berkualitas.

2. Spanish Flu (1918)

Pada 1918, ahli kesehatan mendeteksi virus H1N1 pada personel militer Amerika Serikat kemudian menyebar di Eropa ketika mereka berangkat Perang Dunia I. Dari Januari 1918 hingga Desember 1920, virus ini yang tampaknya berpindah dari unggas ke manusia, menginfeksi sekitar 500 juta orang.

Seperti COVID-19, orang dewasa yang lebih tua paling berisiko mengalami gejala parah. Namun, flu Spanyol juga menyerang anak-anak di bawah usia 5 tahun dan orang dewasa berusia 20-40 tahun.

Faktanya, seseorang berusia 25 tahun lebih mungkin meninggal karena flu Spanyol daripada seseorang berusia 74 tahun. Ini tidak biasa untuk flu.

3. Kolera (1961-1975)

Selama 2 abad terakhir, kolera telah mencapai proporsi pandemi sebanyak tujuh kali. Para ahli mengklasifikasikan pandemi kolera tahun 1961-1975 sebagai yang ketujuh.

Kolera adalah infeksi bakteri pada usus kecil oleh strain tertentu dari Vibrio cholerae. Ini bisa berakibat fatal dalam beberapa jam. Gejala yang paling umum adalah diare, kram otot dan muntah juga bisa terjadi.

Meskipun pengobatan rehidrasi langsung berhasil hingga 80% kasus, angka kematian kolera bisa mencapai 50% tanpa pengobatan. Ini berkali-kali lebih tinggi daripada perkiraan tertinggi untuk COVID-19. Kolera terjadi ketika seseorang menelan makanan atau air yang terkontaminasi.

Seperti COVID-19, mencuci tangan sangat penting untuk menghentikan penyebaran kolera. Lebih pastinya, untuk mencegah kolera, akses ke air bersih dan kebersihan makanan yang baik adalah hal utama.

Share on Google Plus

About maxbet268